Best Food
nice food
healty Food

Sunday, September 19, 2010

Captivating China

Berangkat dari keinginan mengunjungi World Expo yang diadakan lima tahun sekali, bulan Juli kemarin saya pergi ke Cina, sekaligus singgah ke beberapa kota. Oh ya, ngomong-ngomong, setelah sekian lama, saya akhirnya naik Garuda lagi (biasanya naik low cost carrier terus :P). Fasilitasnya ternyata sangat ter upgrade. Dengan tampilan interior baru, fasilitas in flight entertainment yang lengkap, dan juga service yang sangat oke, saya optimis ke depannya Garuda bisa jadi maskapai Asia papan atas dan menyamai MAS atau SQ.

Beijing : Serba Teratur dan Penuh Peninggalan Kuno

Perjalanan sekitar 6 jam mengantar saya dari Jakarta ke Beijing Capital International Airport. Dari airport, saya langsung menuju pusat kota. Pusat kota Beijing terlihat sangat rapih. Dimana-mana gedung tinggi, jalanan yang sangat lebar, dan sangat rapih.

Saya langsung menuju ke landmark Beijing, Tienanmen Square yang merupakan area publik terbesar di dunia 440 ribu m2 yang banyak menyimpan sejarah Cina. Di sana ada Forbidden City, kompleks kerajaan Cina jaman dulu. Saat itu sangat ramai dan panas. Forbidden City sendiri dihiasi gerbang-gerbang raksasa serba merah. Pulang dari sana, menonton sirkus Beijing yang mengundak decak kagum. Penampilannya terlihat sangat total : kostum,koreografi, atraksi, menghasilkan satu pertunjukan yang menarik. Yang paling wow adalah sejenis bola yang dimasuki pengendara motor (kalau di Indonesia seperti tong setan). Canggihnya, tidak cuma satu atau dua motor yang masuk, tapi sampai lima! Para penonton sukses menahan nafas saat menyaksikan aksi yang sangat berbahaya itu. Landmark Beijing lain yang ‘wajib foto’ adalah Bird Nest Stadium dan National Aquatics Center yang dibangun saat Olimpiade Beijing 2008 kemarin. Pengerjaan konstruksi kedua bangunan tadi sering mendapat sorotan di National Geographic atau Discovery Channel karena struktur nya yang cukup kompleks dan banyak melibatkan teknologi bangunan terbaru.


tienanment square - jalannan yang bagus - 5 motor masuk ke dalemnya! - apartemen yang tertata



masih hijau di tengah padatnya kota - great wall - bird nest stadium


Belum ke Beijing jika belum ke Great Wall. Bangunan super raksasa yang membentang sejauh 8000an km. Lagi-lagi, udara yang super panas bikin naik ke puncaknya butuh perjuangan ekstra. Walaupun nafas udah abis dan mau pingsan, saat di puncaknya berasa on the top of the world menikmati view pegunungan dan kota. Melihat kemegahannya, gak kebayang deh pengerjaan konstruksinya jaman dulu dengan teknologi yang masih serba terbatas.

Yang saya saat ingat saat di Beijing adalah, betapapun kota ini sangat padat, secara umum pengaturannya tertib dan rapih. Transportasi publik tersedia sangat banyak dan lengkap. Infrastruktur jalannya, wow, jalurnya super lebar dan tertata baik. Kondisi jalannya juga sangat besar dan kondisi perkerasannya yang baik. Jalur sepeda terhubung di semua area kota . Dan, masih banyak sekali orang yang bersepeda.

Walaupun dihimpit gedung-gedung pencakar langit, taman kota masih lumayan banyak tersedia. Pedestrian bun benar-benar ditata rapih. Area pemukiman tampak cukup tertata. Selain itu, sepenglihatan saya, tata guna lahan nya cukup jelas. Kawasan apartemen biasanya terkelompokkan sendiri, lalu begitu pula kawasan perkantoran atau kawasan komersil.
Hangzhou yang Serba Alami dan Shanghai Hutan Beton

Dari Beijing, kami naik pesawat selama 2 jam ke kota Hangzhou. Hangzhou ini didesain sebagai kota pariwisata. Daya tariknya lebih ke arah alam,pemandangan,bukit, dan kuil-kuli yang serba tradisional. Ada Xihu Lake yang berpadu dengan taman besar dan ditata cantik. Sebenarnya danau nya sih nggak bagus-bagus amat (kalo dibandingkan dengan Danau Toba ya kalah jauh), tapi pengaturannya bagus. Kapal yang disediakan untuk berkeliling terlihat mewah. Selain itu, kota ini juga terkenal sebagai penghasil sutra dan teh. Banyak tersedia pabrik-pabrik sutra dan teh yang didesain khusus untuk turis. Kita bisa melihat presentasi dan display langsung dari cara pembuatannya dan terakhir ada toserba yang menjual produk oleh-oleh. Disediakan juga kawasan-kawasan rekreasi dan kafe kafe yang seperti memang ditujukan untuk turis dan ekspatriat.

Kota berikutnya, Shanghai. Shanghai bisa dibilang paling meriah dibanding kota-kota sebelumnya. Gemerlap dan penuh gedung tinggi yang desainnya bikin wow. Pusat perbelanjaan banyak terdapat dimana-mana. Tempat hiburan seperti tidak ada habisnya.
Salah satu landmark dari kota Shanghai adalah Oriental Pearl Tower, menara TV dengan desain unik. Dengan lift ke sightseeing deck dan melihat satu view kota Shanghai yang wah, benar-benar penuh dengan gedung-gedung pencakar langit seperti Jinmao Tower dan Shanghai World Financial Center. Ada juga Lujiazu circular pedestrian bridge yang terlihat sangat menonjol di antara gedung-gedung. Di area yang se sentral itu, hebat bahwa pergerakan manusia masih sangat difasilitasi.

Saat malam hari, kami ke area The Bund. The Bund ini merupakan bekas peninggalan Inggris, sehingga gedung-gedung bergaya Eropa dan masih tertata baik hadir disini. Selain itu dari sungainya, dan melihat view kota malam hari yang serba gemerlapan. Di area ini juga banyak terdapat butik-butik eksklusif dari brand-brand high end.

Shanghai juga merupakan surga belanja. Area yang paling terkenal adalah Nanjing Road, satu kawasan yang berisi mal-mal dan pertokoan sepanjang 3-4 km . Seperti Orchard Road nya Singapur, tapi ini versi lebih besar dan lebih banyak pilihan. Untuk barang-barang bermerk level menengah (bukan high end), harganya relatif sekitar 30 persen lebih murah dibanding di Indonesia. Rasanya, karena banyak barang langsung diproduksi di Cina. Nanjing Road sendiri khusus untuk pejalan kaki, namun disediakan trem gratis di area tersebut untuk pengunjung untuk berkeliling. Ada juga area taman kota terbuka sebagai ruang publik dan juga berfungsi sebagai tempat acara.
west lake hangzhou - nanjing road - kawasan the bund
mega skyscrapers city - shanghai night view - lujiazu pedestrian bridge

Highlight dari trip ini tentu saja Shanghai Expo, yang menurut saya semacam ‘surga’ untuk orang-orang teknik sipil, arsitektur, dan planologi. Kunjungan ke Shanghai Expo ini benar-benar memberi banyak inspirasi. Yang jelas, Cina terlalu luas untuk dijelajah selama satu mingguan. Namun, kunjungan 9 hari ke negara tirai bambu ini benar-benar menyadarkan saya bahwa Cina adalah negara raksasa.

Tips Traveling ke Cina

Saran saya, untuk first timer, akan lebih enak jika ikut tur, terutama jika ingin mengunjungi beberapa kota sekaligus. Selain lebih murah (hal ini dikarenakan belum ada budget airline yang memiliki direct flight dari Indonesia ke Cina), hal yang paling bikin frustasi adalah bahasa. Berbagai petunjuk jalan di tempat umum masih berbahasa Mandarin, dan bahkan tidak semua orang airport dan hotel bisa berbahasa Inggris. Walapun, Shanghai terbilang cukup lumayan foreign toursit friendly.

Jika memang ingin berangkat sendiri (tanpa tur), kuncinya satu : persiapan yang matang. Belajar dulu basic mandarin survival dan banyak riset di internet. Direct flight dari Jakarta antara lain disediakan oleh Garuda, China Airlines, Batavia Air. Cina juga menawarkan berbagai variasi akomodasi. Beberapa international hotel chain bisa di booking lewat internet (Holiday Inn Express, Ibis). Bisa juga mencari hostel/budget hotel lokal (Pod Inns, Motel 168), tapi kekurangannya tidak semuanya bisa berbahasa Inggris. Begitu juga dengan transportasi publik. Kota-kota besar memiliki sistem transportasi publik yang sangat baik. Asal bisa mengerti petunjuk-petunjuknya, berkeliling antar tempat di Cina seharusnya tidak terlalu masalah.
Cina adalah negri 4 musim. Bulan Juni-Juli sangat panas, sebetulnya agak kurang nyaman untuk berkeliling. Sedangkan bulan Desember adalah winter, tidak semua tempat buka. Bulan yang menjadi favorit wisatawan adalah Maret dan Oktober, karena udara sedang sejuk-sejuknya.
Semua barang tersedia di Cina. Mulai dari asli, dan tentu saja, pembajakan yang meraja lela. Mulai dari berbagai macam tas branded KW, sampai produk-produk elektronik paling mutakhir. Banyak sekali orang yang akan menawarkan barang-barang palsu di jalan. Beberapa kota melarang pembelian barang bajakan dan biasanya customer yang tertarik akan diajak ke tempat tertutup untuk melihat produk-produk bajakan tersebut. Jadi kalau memang niat mencari barang asli, pastikan beli di gerai resmi.
Membeli barang di Cina menurut saya agak tricky. Kalau kita tidak tahu harga, bisa-bisa dimahalin berkali-kali lipat. Selain itu, biasanya mereka memasang harga awal yang berkali lipat jauh lebih tinggi. Apalagi, konsumen Indonesia terkenal royal saat belanja. Tips dari tour guide saya, tawar langsung 1/5 nya. Dan ternyata hal ini memang benar. Walau pake acara ngotot dengan bahasa seadanya, suvenir pun bisa dibawa pulang dengan harga terjangkau.
Dengan penduduk terbanyak di dunia dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang superior, ada banyak, banyak sekali hal yang bisa dipelajari dari Cina. Baik itu dari sistem transportasinya, pengaturannya, regulasi-regulasinya, dan tata kotanya. Belajar sedikit tentang sejarah Cina atau perkembangan-perkembangan terbaru akan memberikan nilai tambah dari traveling ke sana.

No comments:

Post a Comment