Best Food
nice food
healty Food

Thursday, February 18, 2010

The Urban and Vibrant Bangkok

Sesudah Ho Chi Minh, destinasi berikutnya adalah Bangkok. Penerbangan selama satu setengah jam dengan AirAsia mengantar kami ke Suvarnabhumi Airport, airport Bangkok yang benar-benar berkelas internasional. Sangat modern, canggih, bagus, sekaligus berukuran raksasa dan serba jauh. Kami menginap di Hotel Ibis Nana (450rb per malam) di daerah Sukhumvit yang ramai oleh tempat-tempat wisata. Hotel yang compact dengan desain minimalis yang menyegarkan, pas untuk anak muda.

Secara umum, Bangkok tidak jauh beda dengan Jakarta. Panas, besar, kosmopolitan, padat, dan super macet. Banyak mal-mal untuk belanja serta memanjakan gaya hidup modern yang konsumtif. Sudah jarang ruang terbuka untuk orang berkumpul. Sepanjang jalan, yang saya lihat adalah pemukiman dan tempat komersil yang padat dengan latar belakang gedung-gedung pencakar langit.

macet dimana-mana - densely populated - ladyboy cabaret

Bangkok merupakan surga belanja. Yang pertama ada Siam Square : Siam Paragon, MBK, Central World Plaza, Siam Discovery. Deretan mal-mal ini cukup bikin capek menjelajahinya, karena jumlahnya memang banyak sekali. Yang mirip dengan di Jakarta : banyak anak berseragam sekolah berkeliaran di mal! Selain itu, penampilan anak mudanya sangat stylish dan unik, bukan template sama yang sering kita lihat di mal-mal Jakarta. Tapi untuk yang emang bukan niat belanja, menjelajahi mal-mal ini ya bukan merupakan hal yang spesial.

Tempat belanja berikutnya adalah Jatujak Market. Tempat ini sangat populer untuk belanja suvenir serta berbagai produk fashion yang bisa ditawar. Lokasinya luas, ada yang bagian indoor dan outdoor. Pastikan punya waktu yang cukup untuk menjelajah dan membandingkan harga. Saat sore, banyak juga penjual makanan dan aneka jajanan yang ada.

Yang wajib dikunjungi lagi adalah Suan Lum Night Market. Saya benar-benar wow dengan barang-barang disini. Super duper trendi dan stylish. Mulai dari fashion nya sampai dengan produk interior yang bikin kepengen setengah mati. Highly recommended buat anak-anak desain interior atau yang lagi pengen belanja buat dekorasi rumah. Untuk desain sekeren itu, harganya juga gak terlalu mahal (dibanding jika barang-barang super unik itu dibawa ke Jakarta, pasti harganya udah berkali-kali lipat di butik Jakarta). Selain itu tersedia pula tempat makan outdoor yang sangat lively sampai tengah malam.

jatujak market - food fiesta - suan lum - plenty of stylish goods

Selain untuk belanja, Bangkok memiliki banyak sekali show-show kebudayaan yang spesial dan unik. Yang terkenal adalah ladyboy show alias waria dalam bentuk kabaret (800 baht). Jangan salah, ladyboy-ladyboy di Bangkok memang terkenal dengan kecantikannya yang luar biasa. Kalau mau nonton ini, sekalian pilih yang bonafide untuk memasitkan ini bukan show yang ‘liar’. Selain ladyboy, sebetulnya ada juga pilihan menonton hal lain seperti thailand Muay Thai Kickboxing dan Siam Niramit. Walaupun harga cultural show ini cukup mahal, tapi yang disajikan benar-benar khas, unik, dan digarap secara profesional. Jadi worth it kok!

Kita juga sempet satu harian ke Ayutthaya dengan mencharter taksi. Ayutthaya sendiri terletak cukup jauh dari Bangkok, sekitar satu setengah jam perjalanan lewat tol. Ayutthaya sendiri merupakan kompleks berisi bekas struktur tempat kerajaan yang dulu. Mungkin bisa dibilang mirip candi Borobudur, versi lebih menyebar ke berbagai tempat. Di Ayutthaya sendiri ada beberapa spot yang diunggulkan sebagai pariwisata walaupun bentuk peninggalannya relatif tidak terlalu berbeda. Yang jelas, kombinasi reruntuhan-reruntuhan misterius ini membuat kita membayangkan bagaimana kemeriahan hidup pada masa peradaban Ayutthaya.

the magical Ayutthaya

Di hari terakhir, kami mengunjungi kawasan Grand Palace di daerah Kao Shan. Tempat tinggal raja Thailand ini serba mewah, keemasan, dan penuh dengan detail-detail tradisional. Tempat wajib foto untuk para turis yang pergi ke Bangkok. Sialnya, saat itu ramenya bukan main. Bener-bener over crowded oleh turis dan panas matahari nya memanggang. Jadi, kurang enjoy untuk menikmati area tersebut. Untungnya di daerah situ ada museum-museum yang nyaman dan tidak terlalu ramai. Lumayan buat ngadem sambil menambah referensi tentang Thailand.

although over crowded, Grand Palace still show its splendor

Walaupun macetnya separah Jakarta, Bangkok sudah punya 3 sistem transportasi yang cukup bisa diandalkan. Yang pertama BTS (Skytrain), kebanyakan menghubungi pusat-pusat komersil dan wisata. Yang kedua adalah MRT yang masih cukup baru, kebanyakan melewati daerah perkantoran. BTS dan MRT ini juga sudah sedemikian baiknya terintegrasi dengan beberapa interchange di titik-titik strategis. Informasi mengenai rute keduanya pun banyak tersedia dan mudah diikuti oleh first timer. Dan yang berikutnya adalah kapal yang melewati sepanjang sungai Chao Phraya. Ayo Jakarta, rasanya kita udah ketinggalan banget. Gak ada alasan untuk gak mempercepat pembangunan MRT Jakarta :)


Chao Phraya boat - skytrain - new MRT station

Trip singkat dan padat ke Bangkok selama 2,5 hari lagi-lagi mengharuskan saya membandingkan Bangkok dengan Jakarta secara pariwisata. Kota dengan tipikal yang kurang lebih sama dengan segala kemeriahan sekaligus kesemawutan. Walaupun disesaki oleh pusat bisnis dan hiburan dimana-mana untuk mengakomodir modernisasi sebuah kota besar, Bangkok masih memiliki identitas kuat untuk merepresentasikan budaya tradisional Thailand. Sesuatu yang menurut saya, masih harus banyak dipelajari Jakarta jika ingin tampil sebagai pemain atas kota pariwisata di Asia.

No comments:

Post a Comment