Best Food
nice food
healty Food
Showing posts with label Chapter of My Life. Show all posts
Showing posts with label Chapter of My Life. Show all posts

Sunday, August 8, 2010

A Year as A Civil Engineer Student : Academic Life

Dinamis dan warna-warni, mungkin itu kata-kata yang tepat untuk mendeskripsikan setahun di tingkat dua perkuliahan teknik sipil ITB. Ya materi kuliahnya, ya tugas-tugasnya, ya organisasinya, ya teman-temannya, ya aktivitas-aktivitasnya, semuanya benar-benar beragam. Berikut ini adalah hal-hal yang bisa saya bagi, dimulai dari dunia akademis dengan berbagai mata kuliahnya.

Semester 3

Rekayasa Bahan. Ini nih pelajaran pertama yang langsung kerasa ‘sipil banget’. Dipelajari 3 bahan utama dalam sipil yaitu beton, baja, kayu. Untuk beton, praktiknya langsung bikin. Mulai dari menghitung komposisi penyusunnya (agregat, air, semen), mengaduk-aduk, sampai mencetak. Seru banget! Serasa bikin kue. Seperti pride pertama jadi anak sipil ‘gw bikin beton sendiri loh’. Untuk baja dan kayu, dipelajari properties mekanis nya, seperti kuat tekan kuat tarik.

Statika. Dasarnya sipil. Gak ada rumus yang dihafal-hafal, ujung-ujungnya cuma satu : hukum Newton. Nah mata kuliah 3 SKS ini isinya tentang itu semua, versi lebih detail dan banyak sekali tipe soal. Yang jelas, ke depannya mata kuliah ini bakal sangat terpakai. Pengantar Rekayasa Transportasi. Pelajaran ini menyenangkan. Membahas komponen pendukung infrastruktur transportasi dari berbagai sisi. Ya bicara moda transportasinya, jaringan jalan pendukungnya , dan segala infrastrukturnya. Yang dibahas masih secara general jadi tidak terlalu banyak ngitung-ngitung. Di akhir semester ada tugas menghitung kapasitas parkiran.

Pengantar Surveying. Ini mata kuliah yang ¾ dari angkatan dipastikan tidur (bukan contoh yang baik emang). Bayangin aja, satu angkatan di ruangan GKU timur atas yang dingin dan nyaman. Karena nggak dapet praktek nya, makin lengkap pula lah ngawang-ngawang nya pelajaran ini.

Matematika Rekayasa I. Lanjutan kalkulus. Tingkat kesulitan materi / kehebohan kuliah sangat tergantung dosen.

Analisis Statistik dan Probabilitas. Seperti judul mata kuliahnya, ya gak jauh-jauh tentang statistik dan probabilitas. Kuliahnya rata-rata open book. Kuncinya satu : ngerti dan tau penerapan rumusnya. Kalau di kelas saya, adanya asisten dosen sangat membantu. Mencoba mengerjakan sendiri tugas yang dikasih dosen sangat membantu pemahaman.

Mekanika Fluida. Praktikum ini yang cukup menjadi momok untuk anak semester 3. Praktikum nya sih sebentar, hanya 2 kali pertemuan. Tapi laporannya, hmmm, lumayan merepotkanlah untuk ukuran anak lulus TPB. Belajar pertama kali bikin draft laporan, mencari-cari master (ups!), bolak-balik asistensi ke asisten, mendayagunakan Microsoft Excel dengan berbagai bentuk grafiknya yang aneh-aneh, bolak balik print dan menghabiskan malam-malam panjang di kampus untuk mengerjakan laporan. Juga deg-degan karena presentasi praktikum yang berjam-jam lamanya.


literally a concrete maker - menghitung kapasitas parkiran - kuliah lapangan di bendungan jatigede


Semester 4

Rekayasa Jalan. Semua tentang serba serbi pembuatan jalan, ada di sini. Dibagi menjadi 2 : geometri jalan dan perkerasan jalan. Ada tugas besar yang cukup sulit karena cuma ber2 dan kondisi medan yang dikasih bisa bener-bener beda. Saya gak pernah nyangka bahwa bikin jalan itu banyak banget komponen yang diitung. Tikungan, kelandaian, kemiringan, jenis medan. Wow, ternyata bikin jalan itu kompleks sekali. Tapi ini nih efeknya sesudah belajar rekjal : suka banyak komentar dan ngebahas dari segi keilmuan kalo lewat jalan rusak.

Mekanika Bahan. Lanjutannya statika. Kesuksesan mata kuliah ini banyak sekali dipengaruhi pemahaman ilmu statika.

Mekanika Tanah. Ini mata kuliah yang cukup berat. Dalam artian, pertemuan praktikumnya cukup padat. Sering banget bolak balik ke lab mektan yang tersohor itu. Berbagai ‘uji-uji’ dilakukan, antara lain : uji konsolidasi, triaksial, kompaksi, direct shear, dll. Ilmunya sendiri juga bener-bener baru, gabungan antara teori yang banyak sama ngitung-ngitung juga. Laporan 12 bab, asistensi, dan presentasinya juga lumayan menghabiskan waktu. Yang jelas ilmu ini penting banget. Banyak yang tertarik jadi masuk subjur geoteknik yang super berprospek itu. Rekayasa Hidrologi. Mirip mekanika fluida tapi versi lebih luas dan banyak contoh bangunan air. Ada tugas besar menghitung drainase di ITB dan merancang drainase.

Gambar Konstruksi. Ini nih mata kuliah yang paling time consuming. Tugas gambar tiap minggu di kertas A1. Mulai dari denah, tampak depan, tampak samping, pondasi, atap, dll. Tapi alokasi waktu yang terbuang, duh. Waktu pengerjaan minimal banget 6-7 jam an, itu juga kalau tugasnya lagi simpel. Untuk tugas pertama bahkan saya total menghabiskan belasan jam untuk menyelesaikan (plus trial error nya tentu aja). Welcome deh muka-muka anak sipil yang kucel, lupa mandi, kesiangan, bawa-bawa tabung, menjajah sudut-sudut ruang baca CC, menggelar kertas gede gak tau diri, dan panik menjelang pengumpulan. Terasa gak fair mengingat sebenarnya matkul ini cuma 3 SKS dan gak semua dosen memasukkan nilai tugas gambarnya sebagai nilai, tapi ya begitu lah rule of the game nya.

Matematika Rekayasa II. Mengandalkan excel dengan soal-soal super mutakhir. Sungguh memacu adrenalin tiap kali mau kuliah. Satu yang paling saya inget ketika ujian praktek. Setengah angkatan berebut dengan laptop-laptop demi menyetor nilai. Segala cara copy paste dan edit agar nampak natural udah dicoba, bahkan ada yang nekat bawa laptop orang. Chaos dan liar banget. Anak paling males dan gak pedulian pun pasti bakal terenyuh kalo kena mata kuliah dengan dosen tertentu ini.




malam2 panjang bersama kertas gambar - lab rekayasa jalan - bereksperimen dengan tanah

Intinya, adaptasi pola kuliah di tingkat 2 benar-benar dimulai dari enol . Secara ilmu, jelas beda karena lebih spesifik. Tingkat kesulitan pun jadi sangat relatif, seringkali tergantung standar dosen serta sebetapa kita tertarik dengan mata kuliah tersebut. Tapi yang paling kontras berbeda dengan TPB adalah banyaknya praktikum dan tugas-tugas kelompok serta presentasi. Hal-hal ini yang kadang banyak sekali menyita waktu, dan mesti pinter-pinter menyesuaikan jadwal dengan teman-teman sekelompok.

Tuesday, January 19, 2010

Sebuah Refleksi Pertemanan

from 1993 to 2010

“Each friend represents a world in us, a world possibly not born until they arrive, and it is only by this meeting that a new world is born.” – Anais Nin

Dari Bekasi Sampai Bandung

Berbicara tentang pertemanan cewek, ada 4 orang gadis normal yang tumbuh dan besar di Bekasi. Namanya Gini Arimbi, Dyna Mariana, Putri Aninditha, dan Sarah Anzaita Putri. Kenal sejak playgroup dan sama-sama besar di SD yang sama membuat mereka memiliki childhood yang kurang lebih setipe: menjadi anak SD normal, tidak kurang dan tidak lebih dengan segala pengajaran khas ala Al Azhar, menjadi aktivis pramuka, melakukan kebodohan dan hal-hal cupu khas anak SD lainnya, berada di era kartun dan komik ngetop yang sama, pergi ke tempat-tempat main yang sama, mengagumi artis-artis idola yang sama di eranya, dst.

Selepas masa SD yang bahagia di SD Al Azhar Jakapermai, 3 dari kami melanjutkan di SMP yang sama. Ketika SMA, saya dan Dyna lagi-lagi bareng di SMAN 8 Jakarta sedangkan Ditha dan Sarah pindah kota melanjutkan di SMAN 3 Bandung. Walau gak selalu update berita, tapi setiap kali ada liburan, kami pasti menyempatkan untuk ketemu dan ngobrol. Walaupun beda kota dan kegiatan, kami tetap nyambung satu sama lain.

Saat kuliah, Sarah sudah setahun lebih dulu masuk ITB (karena dia aksel), saya dan Dyna ‘terjebak’ di ITB (padahal waktu kelas 3 Dyna pengen banget masuk FK dan saya ngotot kuliah di Singapur), serta setahun kemudian si Ditha menyusul. Walaupun sempat terpisah kelas, sekolah, kota, dan angkatan, namun dengan ajaibnya ujung-ujungnya kami bertemu dan bareng lagi di ITB. Terpaut 3 angkatan dan menjadi 3 jurusan (Teknik Geofisika, Teknik Sipil, FTMD).

Walaupun lokasi kos di Bandung sangat dekat satu sama lain, namun dengan segala kegiatan dan aktivitas jurusan masing-masing yang sangat menyerap tenaga, kami jadi jarang ketemu dan jarang menghabiskan waktu bersama. Tapi ini juga satu hal yang sangat khas, ketika saya cerita tentang suatu problem, sering banget reaksinya adalah “Wah gila, gw juga pernah banget tuh ngalamin hal kayak gitu.” “Aduh, kok sama banget sih problem kita.” Bahkan ketika saya belum selesai cerita pun, mereka kurang lebih sudah bisa meraba problemnya apa dan apa yang saya rasakan. Mungkin, karena frekuensi yang udah nyambung akibat akumulasi interaksi selama belasan tahun ini. Itu juga yang membuat saya sadar, walaupun kita menjalani kegiatan yang beda setiap hari dan masing-masing punya ketertarikan pada bidang-bidang yang cukup beragam, basic nya ya kita adalah tetap orang-orang yang sama.

Buat saya, mereka bertiga lebih dari sekedar teman. Mereka orang yang kenal saya luar dalem sampai busuk-usuknya dan sisi-sisi paling aneh, begitu juga sebaliknya. Mereka orang yang saya percaya banget yang bakal saya minta advice ketika ada problem atau lagi galau. Makanya, bisa aja saya terlibat banyak interaksi dengan banyak orang, tapi yang akan jadi tempat cerita, ya itu itu aja. Bisa dihitung dengan jari. Dan untuk mencapai level itu, jelas dibutuhkan waktu yang gak sebentar. Belasan tahun bukan waktu yang singkat untuk mempertahankan pertemanan.

Antara Kenalan, Teman, dan Sahabat

Menjalani berbagai macam pertemanan selama bertahun-tahun membuat saya menarik sebuah konklusi. Bisa aja dalam satu waktu saya kenal dan berinteraksi dengan banyak sekali orang, dekat banget sesaat karena kondisi tertentu (entah itu satu kelas, satu jursan, satu kepanitiaan), namun pada waktu berikutnya mereka gak lebih dari sekedar kenalan.

Ibarat konsep pasangan, saya yakin masalah pertemanan pun juga ada ‘jodoh’nya. Sesuatu yang terkadang gak bisa dipaksain, yang gak bisa dikira-kira. Ketika kuliah dan bertemu orang baru, bisa jadi kita ketemu banyak orang hebat, orang yang kelihatan sangat asik, atau orang yang kelewat ramah dan friendly. Tapi, belom tentu cocok buat kita sebagai teman. Bisa aja menjadi teman. Tapi untuk jadi sahabat, itu persoalan lain. Dan dari teman dan sahabat pula kita belajar mengenali diri sendiri. When we judge others we are judging ourself. Akan membuat saya bertanya “Kenapa saya kurang nyaman sama dia?” Dari sinilah kita belajar mengenai karakter pribadi.

Bisa aja waktu SMA saya kenal dengan banyak orang, tetapi lantas ketika kuliah dan balik lagi ke Jakarta, cuma ada beberapa list nama yang akan saya hubungin. Kenapa? Karena semakin besar, waktu kita semakin terbatas. Prioritas semakin banyak. Orang-orang datang dan pergi. Friend list di facebook sebenarnya bukan kumpulan teman-teman tapi sebatas database kenalan. And at the end of the day, there are only several who remains there.

It's Quality That Matters

Bahwa semakin kita gede, akan semakin banyak karakter orang yang kita temui. Akan semakin macem-macem masalah yang kita hadapi. Terkadang, kita akan cepat galau menghadali suatu problem, bukan karena problem itu sendiri, melainkan emang karakter kita yang dihadapkan tentang konflik tertentu akan bereaksi seperti itu. Dan pada saat itu, disitulah orang yang benar-benar menegerti karakter kita dari sejak kecil berperan. Orang-orang yang ngerti kejelekan dan sifat-sifat nyebelin kita, dan bisa jadi pengingat yang baik dan tau batas-batasan kalau kita udah mulai di luar batas, bukan orang-orang yang seenak jidat menstereotipkan sesuatu atau diam-diam jadi backstabber.

Dan pada akhirnya, waktu juga yang akan jadi filter paling ampuh. Yang nyambung ya bakal nyambung, yang nggak nyambung ya bakal nggak nyambung. Gak perlu jadi orang lain biar pengen terlihat asik atau gimana. Pada akhirnya pertemanan itu suatu proses yang alami kok. Gak perlu bikin geng geng an segala, men decalre bahwa (sindrom2 anak SMP bikin geng haha, I was one of them) kita best friends forever sejati, atau apalah itu.

Dan sekali lagi, saya percaya bahwa ada banyak sekali faktor untuk menggeser konsep ‘teman’ menjadi merasa ‘saudara’. Gak perlu pake kondisi eksternal yang dibuat-buat, apalagi pakai acara disiksa biar rasa kebersamaan tumbuh. Ketika kita cepat merasa ‘saudara’ dengan orang lain, kenyataannya akan semakin gampang pula kita melupakannya. Percaya deh, ini observasi yang telah saya lakukan bertahun-tahun. Sesuatu itu gak ada yang instan.

Maka, memiliki 3 orang sahabat yang (dengan ajaibnya) ditakdirkan ketemu lagi di ITB merupakan salah satu hal yang cukup baik dalam hidup saya. Saya bukan tipe orang yang cepat akrab dengan orang baru, tapi punya lumayan banyak sahabat baik yang bertahan dari dulu (entah dari jaman SD, SMP, atau SMA), adalah benar-benar sebuah harta karun. Dan harta karun itu akan semakin berharga ketika semakin lama terpelihara.

Friday, November 27, 2009

Sindrom Tingkat 2 dan Segala Kegalauannya

Membagi prioritas adalah seni.

Seperti sebuah kalimat yang sering didengung-dengungkan di saat masa kaderisasi himpunan jurusan, “Hidup ini pilihan, dan setiap pilihan mengandung konsekuensinya”. Saya memilih untuk mengikuti beberapa kegiatan di waktu bersamaan. Resikonya, sering terjadi bentrok yang mengharuskan saya untuk memilih prioritas. Belajar untuk menjalankan semuanya tanpa kehilangan fokus utama : mencapai hasil akademik yang baik sebagai modal melanjutkan S2.

Dan di saat seperti ini, saya belajar untuk menerima konsekuensi dari segala kegiatan yang diambil : waktu bersantai yang berkurang termasuk proyek-proyek pribadi dalam meng-upgrade diri (entah itu memperkaya diri dengan bacaan atau berbagai kegiatan ekstra di luar kampus). Saya belajar untuk berusaha menyamankan diri di lingkungan dan keluarga baru, serta secepat mungkin beradaptasi dengan etos kerja dan kultur yang ada. Hal yang berat karena saya bukan tipe orang yang gampang terbuka.

Saya belajar untuk memaksa diri meninggikan standar mengenai akademis : mendapat nilai jelek berarti sebuah kesalahan yang harus dievaluasi, tidak sempat belajar berarti ada yang salah dengan jadwal kegiatan lain, serta tak ada kata ‘tidak sempat’ untuk mengerjakan laporan praktikum. Walaupun sulit, ini adalah hal yang harus paling tekankan. Seberapapun menggoda kegiatan non akademis di luar sana, akademis tetap harus menjadi prioritas untuk cita-cita jangka panjang. Terlebih, dengan kemampuan akademis yang sekarang, masih diperlukan effort ekstra keras untuk mengejar ketertinggalan.Saya belajar untuk lebih banyak diam. Amati saja dulu, sebelum berkomentar. Kerjakan saja dulu apa yang bisa dilakukan, sebelum mengkritik wacana-wacana besar yang kebenarannya belum dapat dipastikan. Pastikan saja dulu kelancaran teknisnya, sebelum terlalu lama berkutat di dasar teori yang eksekusinya belum tentu efektif.

Saya belajar untuk memilah-milah betul antara wacana normatif dan kebutuhan personal. Saya belajar untuk menerima berbagai perspektif, kultur, dan sistem yang terkadang sangat bertentangan dengan visi saya. Saya belajar untuk memahami betul artinya efisiensi dan efektivitas waktu, serta mengenali sindrom-sindrom kejenuhan ketika hal yang dihadapi sudah kelewat bertumpuk.

Saya belajar untuk berkompromi di zona yang tidak nyaman dan tidak cepat men-judge sesuatu. Saya belajar bahwa segala sesuatu yang diterima mengandung resiko. Jaket himpunan, walaupun keren dan sangat berguna untuk dinginnya malam di Bandung, sesungguhnya berarti waktu, energi, serta tenaga yang terkuras dan tanggung jawab yang bertambah.

Dan pada akhirnya saya belajar, bahwa masih ada sangat banyak hal yang harus dipelajari.